Kisah Ayah yang Dipinjami Anak 863 Hari Oleh Tuhan, Netizen Menangis Membaca...

Kisah Ayah yang Dipinjami Anak 863 Hari Oleh Tuhan, Netizen Menangis Membaca Ini

367

abdul-bersama-sang-putri_20160809_115433

Dalam hidup manusia tentu selalu mendapatkan cobaan dari Sang Maha Pemberi Kehidupan.

Cobaan tersebut berbagai macam jenisnya, namun tentu cobaan yang datang sudah disesuaikan dengan kadar kemampuan kita.

Maka sebenarnya, tidak ada satupun cobaan yang tidak bisa kita hadapi asalkan kita mau terus percaya pada skenario Tuhan.

Kali ini, kisah ini datang dari seorang ayah di Malaysia yang harus kehilangan anak yang begitu ia sayangi.

Cerita ini menjadi viral di dunia maya terutama Facebook dan membuat banyak netizen ikut merasakan kehilangan.

Namun kesabaran dan sikap positif yang ditunjukkan oleh sang ayah, Abdul Muhaimin, sungguh memberi kita pelajaran jika Tuhan tak akan pernah menguji hambanya melebihi kemampuan yang ia miliki.

Memandang darah daging sendiri lesu tak berdaya tentu merupakan kesedihan tiada tara bagi orangtua manapun.

Apalagi jika anak tersebut divonis menderita sebuah penyakit langka yang belum memiliki penawar.

Mendapat cobaan yang begitu berat, Abdul justru mampu menunjukkan kekuatannya sebagai seorang ayah.

Ia tegar dan terus percaya dengan ketetapan yang diberikan Tuhan, bagaimanapun akhirnya.

Ia percaya bahwa skenario Tuhan adalah yang terbaik.

Berikut merupakan kisah yang dituliskan Abdul Muhaimin di akun Facebook nya ketika harus memperjuangkan hidup putrinya,Zarifa.

Saya telah menulis banyak kisah dalam halaman Facebook mengenai perjuangan Zarifa selama 863 hari bernafas di muka bumi indah milik Allah ini.

Banyak kisahnya, suka dan duka yang sesungguhnya mewarnai hidup saya, isteri dan keluarga.

Kisah ini bermula pada 7 Februari 2013, yaitu detik kelahiran Zarifa sehingga berada di ruang ICU selama 28 hari selepas itu.

Apakah yang akan Anda lakukan sekiranya anak Anda divonis mengidap sakit yang kronis atau memiliki sindrom abnormalitas seperti Sindrom Edward, Sindrom Down, dan penyakit lainnya.

Semua tidak menginginkan hal itu berlaku.

Namun, sekiranya hal itu benar-benar berlaku kepada kita, langkah apa yang harus diambil?

Begitu juga kami yang pada mulanya mengalami sindrom penafian (tidak mau menerima kenyataan).

Namun detik getir 28 hari di ICU sesungguhnya banyak mengubah hidup kami.

Zarifa hanya 28 hari di ruang ICU, namun persoalan yang menghantui kami ketika itu adalah apa selanjutnya?

Subhanallah. Akhirnya sedikit demi sedikit Allah membuka jalan bagi kami.

Allah bukakan hati kami untuk bersedia membawa Zarifa pulang ke rumah.

Itulah detik penting yang memacu kami meneruskan perjuangan hidup Zarifa.

Berada di rumah, sedikit demi sedikit Zarifa menunjukkan perkembangan yang baik.

Kasih sayang kami kepadanya tidak pernah berubah, malah makin bertambah hari demi hari.

Menjaga bayi serapuh Zarifa di usia awal tidaklah mudah.

Setiap langkah yang disusun harus memikirkan Zarifa.

Anak kami sering keluar masuk rumah sakit.

Walaupun demam, batuk, selsema menjadi masalah biasa bagi bayi tetapi jika terjadi pada Zarifa kesannya adalah buruk.

Namun benarlah Allah yang senantiasa permudahkan urusan hambanya.

Semua urusan keluar masuk rumah sakit dipermudahkan Allah.

Saat berada bersama Zarifa adalah saat-saat yang selalu kami nantikan.

Terapi Alquran selalu kami lakukan dan ini juga merupakan sumber kekuatan kami berhadapan dengan ujian ini.

Dua kali Idul Fitri kami sambut bersama dengan Zarifa – itulah detik kemenangan yang paling bermakna dalam hidup kami.

Walaupun Zarifa kerap sakit, namun Allah menganugerahkan juga detik-detik di mana Zarifa tersenyum gembira, ketika dia tertawa riang, dan menunjukkan reaksi yang lucu.

Namun, Allah menoktahkan takdir lain.

Masa 863 hari yang dipinjamkan kepada kami untuk bersama Zarifa telah tiba waktunya untuk berakhir.

Bermula dengan demam, batuk dan selsema hingga pneumonia dan seterusnya gagal jantung, detik akhir tanggal 19 Juni 2015 itu menjadi saat yang paling kami ingat sepanjang hayat.

Menjaga Zarifa hampir 3 minggu di 2 rumah sakit yang berbeda sambil isteri yang menjaga adik Zarifa, serta anak-anak lain di rumah adalah pengalaman yang mendalam.

Detik-detik akhir bersama Zarifa – melihat raut wajahnya yang keletihan, badannya yang kurus, jantung yang membengkak, bacaan oksigen yang turun-naik, minum obat setiap waktu – hati mana yang tidak gelisah, jiwa mana yang tidak menangis.

Takdir Allah harus diterima dengan hati terbuka, percaya kepada ketentuan Allah, ridha dengan ketetapanNya dan seharusnya kita sebagai ibu bapak harus ikhlas karana sudah pasti akan ada anak yang memimpin kita untuk ke Syurga Allah kelak.

Berakhirnya perjalanan penuh hikmah bersama Zarifa adalah penyadar kami agar selalu mencari ridho Allah. (*)

Comment

SHARE

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY